sekolahindonesia.org

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Mengukir Kenangan di Bangku Pendidikan

1. Aroma Kapur dan Impian: Kisah tentang Mimpi yang Bertumbuh

Mentari pagi merayap malu-malu melalui celah jendela kelas, menyoroti debu kapur yang menari di udara. Aroma khas sekolah, campuran kapur tulis, buku-buku usang, dan keringat anak-anak, menyambut Rina setiap hari. Rina, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi dokter, duduk di bangku paling depan, menyimak setiap kata yang diucapkan Pak Budi, guru matematikanya.

Matematika bukanlah mata pelajaran favoritnya, namun Rina tahu bahwa matematika adalah fondasi untuk meraih impiannya. Ia berjuang keras, mengerjakan soal-soal latihan hingga larut malam, dibantu cahaya lampu minyak yang remang-remang. Teman-temannya sering mengejeknya karena terlalu rajin, menyebutnya “si kutu buku.” Namun, Rina tidak peduli. Ia tahu apa yang diinginkannya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya.

Suatu hari, Pak Budi mengumumkan adanya lomba matematika tingkat kabupaten. Rina, dengan ragu-ragu, mendaftarkan diri. Ia tahu, persaingan akan sangat ketat. Banyak siswa dari sekolah-sekolah ternama di kota yang akan ikut serta. Namun, Rina yakin, dengan kerja keras dan doa, ia bisa memberikan yang terbaik.

Selama beberapa minggu, Rina belajar lebih giat lagi. Ia memecahkan soal-soal sulit, membaca buku-buku referensi, dan berdiskusi dengan Pak Budi. Pak Budi, melihat semangat Rina yang membara, dengan sabar membimbingnya. Ia memberikan soal-soal latihan tambahan, menjelaskan konsep-konsep yang sulit, dan memberikan motivasi kepada Rina.

Hari perlombaan tiba. Rina merasa gugup, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Ia mengingat semua yang telah dipelajarinya, dan ia berdoa kepada Tuhan agar diberikan kemudahan. Soal-soal yang diujikan ternyata sangat sulit. Banyak peserta yang menyerah di tengah jalan. Namun, Rina tetap berjuang. Ia memecahkan soal demi soal, dengan hati-hati dan teliti.

Setelah berjam-jam berkutat dengan soal-soal matematika, akhirnya Rina berhasil menyelesaikan semuanya. Ia menyerahkan lembar jawabannya kepada panitia, dengan perasaan lega dan cemas. Pengumuman pemenang akan dilakukan seminggu kemudian.

Seminggu terasa sangat lama bagi Rina. Ia tidak bisa tidur nyenyak, selalu memikirkan hasil perlombaan. Akhirnya, hari pengumuman tiba. Rina datang ke sekolah dengan perasaan bercampur aduk. Ia duduk di bangku paling depan, bersama teman-temannya, menunggu pengumuman dari kepala sekolah.

Ketika nama Rina disebut sebagai juara pertama, ia merasa seperti mimpi. Ia tidak percaya bahwa ia, seorang gadis desa yang sederhana, bisa mengalahkan siswa-siswa dari sekolah-sekolah ternama di kota. Ia naik ke atas panggung dengan langkah gemetar, menerima piala dan piagam penghargaan dari kepala sekolah.

Air mata haru membasahi pipinya. Ia teringat akan perjuangannya selama ini, akan dukungan dari Pak Budi dan keluarganya. Ia tahu, kemenangan ini adalah awal dari perjalanannya menuju impiannya menjadi seorang dokter. Aroma kapur dan impiannya telah menyatu, membentuk semangat yang tak tergoyahkan.

2. Bangku Kosong: Kisah Persahabatan dan Kehilangan

Bangku di sampingku kosong hari ini. Biasanya, disitulah Dika duduk, selalu dengan senyum cerah dan lelucon-leluconnya yang menggelikan. Kelas terasa sepi tanpa kehadirannya. Dika, sahabat terbaikku, telah pergi.

Kami bersahabat sejak kelas satu SD. Bersama, kami melewati suka dan duka, belajar dan bermain. Kami saling mendukung, saling menyemangati, dan saling berbagi rahasia. Dika selalu ada untukku, begitu pula sebaliknya.

Dika adalah anak yang cerdas dan kreatif. Ia selalu mendapatkan nilai bagus di sekolah, dan ia pandai menggambar. Ia sering menggambar komik-komik lucu, yang membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. Ia juga bercita-cita menjadi seorang komikus terkenal.

Namun, takdir berkata lain. Dika didiagnosis menderita penyakit leukemia. Ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kami semua merasa sedih dan terpukul mendengar kabar tersebut.

Setiap hari, aku dan teman-teman menjenguk Dika di rumah sakit. Kami membawakannya buku-buku komik, makanan kesukaannya, dan kartu ucapan semangat. Kami berusaha untuk menghiburnya, meskipun kami tahu bahwa ia sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Dika tetap tegar dan semangat, meskipun tubuhnya semakin lemah. Ia tidak pernah mengeluh, dan ia selalu tersenyum kepada kami. Ia mengatakan bahwa ia ingin sembuh, agar bisa kembali ke sekolah dan bermain bersama kami.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Dika menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, dikelilingi oleh keluarganya dan teman-temannya. Kami semua menangis histeris. Kami kehilangan seorang sahabat, seorang teman, seorang saudara.

Bangku di sampingku tetap kosong. Namun, kenangan tentang Dika akan selalu hidup di hati kami. Senyumnya, lelucon-leluconnya, semangatnya, akan selalu kami ingat. Dika telah pergi, namun ia tidak akan pernah terlupakan. Bangku kosong ini menjadi saksi bisu persahabatan kami yang abadi.

3. Seragam Abu-abu Putih: Kisah Cinta Pertama dan Pilihan Hidup

Seragam putih abu-abu ini menjadi saksi bisu perjalanan cintaku. Di sekolah inilah, di bangku kelas dua belas, aku bertemu dengan cinta pertamaku, Sarah. Sarah, gadis manis dengan senyum menawan dan mata yang berbinar-binar.

Kami bertemu di klub fotografi sekolah. Aku tertarik dengan bakatnya dalam mengambil gambar, sementara ia tertarik dengan pengetahuanku tentang kamera. Kami sering menghabiskan waktu bersama, memotret pemandangan indah, dan berbagi cerita tentang mimpi-mimpi kami.

Perasaan cinta mulai tumbuh di antara kami. Kami saling menyukai, saling mengagumi, dan saling memahami. Kami berpacaran selama satu tahun, masa-masa yang penuh dengan kebahagiaan dan kenangan indah.

Namun, setelah lulus SMA, kami harus berpisah. Aku diterima di universitas di Jakarta, sementara Sarah diterima di universitas di Bandung. Kami harus menjalani hubungan jarak jauh, yang tentu saja tidak mudah.

Kami berusaha untuk tetap menjaga komunikasi, saling menelepon dan mengirim pesan setiap hari. Namun, jarak dan waktu membuat hubungan kami semakin renggang. Kami mulai sering bertengkar, dan akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Perpisahan itu sangat menyakitkan bagi kami berdua. Kami merasa kehilangan, merasa hancur. Namun, kami tahu bahwa perpisahan ini adalah yang terbaik untuk kami. Kami harus fokus pada masa depan kami masing-masing.

Setelah beberapa tahun berlalu, aku dan Sarah bertemu kembali. Kami sudah dewasa dan bijaksana. Kami bisa menerima masa lalu kami, dan kami bisa saling memaafkan. Kami tetap berteman baik, meskipun tidak lagi menjadi sepasang kekasih.

Seragam putih abu-abu ini mengingatkanku akan masa-masa indah di sekolah, akan cinta pertama, dan akan pilihan hidup yang harus aku ambil. Seragam ini menjadi simbol kedewasaan, kemandirian, dan keberanian untuk menghadapi masa depan. Seragam ini adalah bagian dari diriku, bagian dari sejarah hidupku.